Laksana Tri Handoko Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Lulusan doktor fisika teoretis dari Hiroshima University ini telah lama malang melintang di dunia riset, khususnya dalam bidang sains dasar dan teknologi. Sebelum menjabat sebagai Kepala BRIN, ia memimpin Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan dikenal sebagai sosok reformis yang berani mengubah pola lama birokrasi riset menjadi lebih lincah dan terukur. Ia mendorong budaya riset berbasis output dan kolaborasi multidisiplin, dengan pendekatan manajemen yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Sejak BRIN dibentuk sebagai integrasi seluruh lembaga riset negara, Laksana Tri Handoko mengemban mandat berat: menyatukan beragam budaya kelembagaan riset, mempercepat hilirisasi inovasi, dan menjembatani antara laboratorium dengan industri serta kebutuhan masyarakat. Ia percaya bahwa riset bukan semata-mata tentang publikasi, tetapi tentang solusi. Dalam berbagai forum, ia menegaskan bahwa inovasi harus menjadi ujung tombak kemandirian bangsa dari pangan, energi, hingga teknologi digital. Di bawah kepemimpinannya, BRIN aktif membuka ruang kolaborasi bagi swasta, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam tata kelola riset, seperti sistem e-laboratorium, platform data terbuka, serta penguatan infrastruktur riset nasional yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Laksana Tri Handoko dikenal sebagai pemimpin yang tegas, visioner, namun tetap rendah hati. Ia tidak segan turun langsung melihat perkembangan proyek di lapangan dan berdialog dengan para peneliti muda. Baginya, regenerasi ilmuwan dan penciptaan ekosistem riset yang sehat adalah fondasi masa depan bangsa. Dengan pendekatan sistemik dan berbasis hasil, Handoko menjadikan BRIN bukan hanya sebagai institusi, tapi juga sebagai motor penggerak perubahan. Ia ingin memastikan bahwa investasi negara dalam ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar kembali dalam bentuk kemajuan sosial, ekonomi, dan kemandirian nasional. Bagi Handoko, riset bukan sekadar eksperimen di laboratorium, tetapi tentang memperjuangkan masa depan Indonesia yang berdikari dan berdaya saing global.